Klik Dapet Duit

Gempa

Diposkan oleh Tajudin Nur / Category:

Gempa Sumatra Barat terjadi ketika ingatan bangsa ini masih sangat terang akan gempa yang terjadi di Jawa Barat, Gempa Sumatra Barat yang memporak porandakan Kota Padang dan sekitarnya belum lagi usai dalam pemberitaan media tentang 600an lebih korban yang ditemukan meninggal dan ratusan manusia yang belum ditemukan dalam reruntuhan gedung ataupun timbunan tanah akibat longsoran bukit di provinsi tersebut. secara medis, "jika manusia selama 8 hari tidak makan dan minum maka dia akan mati " sebagaimana disampaikan dalam beberapa brita di TV saat liputan gempa di sumbar, itu yang menjadika dasar pencarian pada korban yang terkurung dalam reruntuhan gedung di hentikan dan lebih difokuskan kepada pencarian korban yang tertimbun"mati".
Rabu, 8 Oktober 2009. isu gempa berkekuatan lebih dari 8 skala richer akan mengguncang Bandar Lampung dan sekitarnya, entah dari mana isu itu beredar yang jelas isu tersebut sangat meresahkan sebagain besar masyarakat bandar lampung, sehingga sore harinya dalam tayangan LIVE pada stasiun televisi lokal yang ada di bandar lampung, BMG secara tegas menyatakan bahwa isu tersebut tidak bisa di pastikan kebenarannya. dan keesokan harinya di sebuah surat kabat yang aku baca diketahui bahwa, isu tersebut berasal dari SMS yang di kirim oleh "Orang" yang tidak jelas apa maksud dan alasannya mengirim pesan tersebut, diketahui juga dari Surat Kabar Harian tersebut kalau di hari dimana diisukan akan terjadi gempa di bandar lampung para Pegawai di lingkungan Pemda Provinsi Lampung sempat kosong sebelum waktu istirahat tiba, di beberapa mol di bandar lampung juga terkena imbasnya.
Perlu diketahui bersama bahwa; sampai saat ini tidak satupun lembaga atau alat yang mampu mendeteksi kapan gempa akan terjadi meski wilayah Indonesia umumnya memiliki potensi gempa jika dilhihat dari potongan lempengan bumi ataupun jika dilihat dari sejarah dimana di tempat tersebut pernah terjadi gempa. maka dari itu, pertama, masyarakat untuk tidak mudah termakan oleh isu-isu yang berakibat meresahkan. kedua, Selalu siap siaga dengan segala kemungkinan yang akan terjadi baik gempa ataupun musbah yang lainnya, ketiga, baik masyarakat ataupun media masa untuk ikut menciptakan suasana yang tidak meresahkan masyarakat dengan apa yang di ucapkan atau di sampaikan kepada publik. keempat, mendekatkan diri kepada sang pencipta sebagai pengejawantahan dari keimanan yang dimiliki serta keyaninan akan ketentuan yang telah digariskan Allah SWT baik baik hidup mati ataupun segala hal yang akan terjadi.
Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari apa yang terjadi dalam kehidupan ini, menjadikan musibah atau cobaan sebagai salah satu cara untuk meningkakan keimanan adalah salah satu kunci ketenangan dalam hidup. semoga Allah SWT meridhoi kita semua, Amiiin. Wallahu'alamu bisshoab

H I K M A H

Diposkan oleh Tajudin Nur / Category:

Sudah tiga jam berlalu, entah berapa pertanyaan sudah di ajukan namum jawabnya tetap sama. "Tidak Tau" pak, baru satu tahun usaha itu berjalan, entah berapa banyak pekerjaan itu telah memberikan kehidupan kepada semua yang pernah merasakan. .... akan tetapi puasa ini, lain dengan puasa yang sebelumnya, puasa yang terbiasa dengan udara panas terasa lebih terasa apalagi ketika semua karyawan berada di dalam kendaraan butut alias odong-odong sebutan buat mobil diatas tahun 90-an, walaupun catnya nampak mengkilap tapi siapa tau kalau aksesoris di dalamnya tak lebih dari kamar kos para mahasiswa rantau yang kemudian menjadi aktivis kampus.
Konon katanya, mereka yang menjadikan usaha kaum muda yang progresif itu tercemar adalah ulah senior-seniornya di kampus, yang bermodalkan kepekaan terhadap lingkungan katanya rela menjual semua idialisme dan perkawanan. hilang sudah rasa saling percaya di antara mereka yang ada saling intai....
Entah sampai berapa kali kita semua harus menjelaskan persoalan sesungguhnya, yang jelas merekalah yang tahu, karena mereka jugalah yang bertanya. sehingga sumpahnya terbuncah... Jangan! .... Haram !...... itulah pesanku terhadap Istri Tercinta yang senantiasa menunggu dalam kegelapan dan hampanya hati.
Buat Anakku Tersayang "mfa"
......................
Dalam do'a nya di musim tadarus ini, ditumpahkannya butiran kristal yang selama ini tertahan, seraya memanjatkan tasbih, dan puji-pujian kepada sang Memiliki agar kami semua terhindar dari semua yang mengancam, Allahuakbar......
.....................
Tapi ingat! aku tidak akan pernah menyerah..... itulah janji sang pejuang di balik keraguan dan keputusasaanya, semoga Allah SWT memberikan jalan terbaik untuk kita semua. Amiiin

T A F A K U R

Diposkan oleh Tajudin Nur / Category:

Nafasnya terengah, ketika sampai di pintu yang sejak pagi terbuka ia langsung berteriak. Bah... Abah...., engki kena musibah bah..., tadi aya gempa di lembur ibu...,
belum lagi sempat berfikir panjang datang lagi seorang ibu paroh baya sambil berlari-lari kecil, mukanya yang pucat entah karena perjalanan pulang sedari pasar atau karena suati fikiran yang tengah mengganggu.
wajahnya basah oleh keringat dan air dari kelopak matanya, Bah.... abah.... ema dan bapak gemana.......
Gempa berkekuatan 7,3 skala richter yang mengguncang Jawa Barat dan sekitarnya telah meluluhlantahkan bukan saja bangunan di Desa Sindang Jaya, Kec. Mangun Jaya Ciamis namun hati keluarga sang ustad kampung yang hidup sederhana di pulau sang bumi rua jurai. gempa itu juga menjadikan kerinduan yang semakin mendalam kepada sanak saudara nan jauh disana. keinginan bermaaf maafan di hari raya tahun ini solah memuncak seketika kampung itu telah ditenggelamkan oleh dahsaytnya gempa.
sang Abah yang sedari tadi diam kemudian melipat sejadah yang sedari asar tadi didudukinya, dibelainya si asef sambil bibirnya ber ucap "Yang Sabar" .... meski di sudut matanya nampak ada butiran bening, terlebih ketika perempuan paroh baya yang sejak tadi menangis menyendarkan kepalanya pada sang abah.

Allah akan menguji kita semua dengan sedikir ketakutan

semoga di bulan yang suci ini, kita semua diberi kekuatan menghadapi segala macam ujian hidup.
wallahu'alam bissoab

KOMUNIKASI DAKWAH JALALUDDIN RAKHMAT Bagian 4

Diposkan oleh Tajudin Nur / Category:

PEMIKIRAN KANG JALAL

TENTANG KOMUNIKASI DALAM PERSEPEKTIF DAKWAH

  1. Pengertian Komunikasi Dakwah

Menurut Drs. H. Toto Tasmara dalam buku Komunikasi Dakwah secara sederhana memberikan pengertian komunikasi. Seseorang yang berkomunikasi berarti mengharapkan agar orang lain dalam hal ini yang diajak berkomunikasi untuk dapat ikut berpartisipasi atau tindakan sama sesuai dengan tujuan, harapan atau isi pesan yang disampaikan. Dengan penekanan bahwa komunikasi berarti upaya untuk mengadakan persamaan atau commonness dengan orang lain dengan cara menyampaikan keterangan, berupa suatu gagasan ataupun sikap.

Dengan berkomunikasi sebenarnya mengharapkan atau bertujuan terjadinya perubahan sikap atau tingkah laku orang lain untuk memenuhi harapan sebagaimana pesan disampaikan. Perubahan sikap dan tingkah laku akibat dari proses komunikasi adalah perubahan sikap yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Dengan demikian apa yang disampaikan oleh komunikator pada komunikasi akan mempengaruhi sikat komunikan sejauh kemampuan komunikator dalam mempengaruhinya.

Agama bukanlah sesuatu yang bersifat subordinate terhadap kenyataan social-ekonomi, agama pada dasarnya bersifat independen, yang secara teoritis bisa terlibat dalam kaitan saling mempengaruhi dengan kenyataan social, oleh karenanya Mattulada dkk dalam buku Agama dan Perubahan Sosial mengungkapkan bahwa, Agama mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk menentukan pola prilaku manusia. Sehingga ajaran agama akan mampu mendorong atau menahan proses perubahan social.

Secara umum kata dakwah yang berasal dari bahasa arab yang mempunyai arti seruan, ajakan, panggilan. Sama halnya dengan para ahli dibidang ilmu dakwah, Jalaluddin Rakhmat juga sepakat bahwa juru dakwah atau orang yang menyampaikan (tabligh) pesan dakwah disebut dalam ilmu komunikasi sebagai komunikator atau orang yang menyampaikan pesan kepada pihak komunikan.

Dilihat dari bahasa kata dakwah atau tabligh mengandung arti proses penyampaian pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut.

Jalaludin Rakhmat sepanjang karyanya tidak pernah mengaitkan kata komunikasi dan dakwah secara beriringan. Komunikasi oleh jalal digolongkan sebagai keilmuan yang bersifat lebih umum, sedangkan istilah dakwah hanya beberapa kali jalal sampaikan dalam tulisannya. Meski Jalaludin Rakhmat tidak pernah mengaitkan kata dakwah dengan kata komunikasi tetapi dalam menampilkan pengertian serta tujuan yang hendak di capai dalam karya-karya Jalaluddin Rakhmat selalu menampilkan kesamaan.

Secara umum komunikasi memiliki kecenderungan menyampaikan pesan-pesan yang sifatnya lebih umum, baik tentang informasi yang sifatnya ilmiah ataupun yang lainnya. Komunikasi sendiri memiliki banyak keterkaitan dengan keilmuan-keilmuan umum seperti psikologi, serta ilmu-ilmu social lainnya. Kecenderungan umum keilmuan komunikasi pada dasarnya dilatar belakangi oleh sifat komunikasi yang bisa masuk dalam setiap keilmuan serta kebutuhan keilmuan-keilmuan lain tersebut dengan pengetahuan komunikasi.

Latar belakang pendidikan Jalaluddin Rakhmat yang lebih spesipik pada bidang komunikasi menjadikannya matangan dalam bidang komunikasi. Kematangan Jalal dalam bidang komunikasi telah ditunjukan baik dalam komunikasi verbal yang disampaikan dalam menyampaikan materi-materi ilmiah baik dikampus atuapun dalam seminar dan forum ilmiah lainnya. Dalam komunikasi non verbal, Jalal juga menunjukkan kemampuannya dengan mengisi kolom opini dan ilmiah di media massa baik yang sifatnya lokal ataupun nasional sampai pada dibukukannya karya-karya tersebut baik olehnya sendiri ataupun atas permintaan orang lain.

Kematangan keilmuan dalam bidang komunikasi Jalal diakui juga oleh para pemikir-pemikir lainnya di Indonesia, sehinggi tidak jarang Jalal diminta memberikan kata pengantar pada karya-karya orang lain. Hal ini membuktikan kepercayaan orang lain terhadap pemikiran Jalaluddin Rakhmat sebagai seorang cendikiawan muslim yang membidangi ilmu komunikasi.

Sebagaimana halnya kiprah Jalaluddin Rakhmat dalam bidang komunikasi, dalam bidang dakwah Ia juga selalu melakukan kegiatan dakwah sebagaimana kewajibannya sebagai seorang muslim. Dakwah yang memiliki spesifikasi lebih khusus disbanding dengan keilmuan komunikasi ditekuni Jalal sebagai media dalam mendekatkan diri kepada sang penciptanya.

Dakwah sendiri memeiliki kecenderungan yang lebih khusus dalam bidang siar agama Islam, aktifitas dakwah yang dilakukan Jalal hampir sama dengan aktifitasnya dalam melakukan aktifitas komunikasi. Dalam dakwah bil lisan Jalal senantiasa aktif dalam majlis pengajian baik yang didirikannya ataupun dalam memenuhi undangan guna memberikan pemahaman tentang agama Islam. Dakwah bil hal Jalal dilakukannya dengan mendirikan lembaga pengajian ataupun lembaga torekoh yang dijadikan media dalam menyampaikan gagasan serta pemikirannya guna menjalankan aktifitas dakwahnya.

Dakwah bil Qolam yang dilakukan Jalal memberikan bukti yang kuat pada penerapan keilmuan dakwah yang coba dituangkan dengan pemikiran atau keahlian komunikasi yang dimilikinya. Sebagaimana karya-karya Jalal yang dimuat di media massa, banyak sekali pemikiran-pemikiran Jalal yang memiliki unsure dan materi dakwah.

Kehadiran Jalal dengan pemikiran Islam yang moderen dapat diterima oleh khalayak umum melalui media masa melalui penuangan pemikiran melalui tulisan. Ini semua dikarenakan keahlian Jalal dalam bidang komunikasi.

Meski telah dikatakan tidak adanya keterkaitan antara keilmuan dalam bidang komunikasi dan dakwah akan tetapi Jalaluddin Rakhmat mempu menggabungkan ide dakwahnya melalui kemampuan berkomunikasi yang baik, sehingga jelas bahwa baik kata komunikasi ataupun dakwah secara khusus tidak memiliki kesamaan, namun secara umum kesamaan antara komunikasi dan dakwah pada pesannya dimana pesan pada keilmuan bidang komunikasi lebih bersifat umum sedangkan pesan yang ada dalam keilmuan bidang dakwah lebih khusus pada bidang keagamaan Islam.

  1. Hubungnan Proses Komunikasi Dengan Penyampaian Pesan Dakwah

Proses penyampaian pesan dakwah berkaitan erat dengan proses komunikasi. Sebagai ahli dibidang komunikasi dan praktisi dakwah, Jalaluddin Rakhmat memandang kemajuan dibidang ilmu moderen harus disambut oleh para juru dakwah dalam mengembangkan Islam. Dalam proses penyampaian pesan dakwah melalui media baik cetak maupun elektronik, seorang juru dakwah harus mampu menyesuaikan kedudukannnya sebagai komunikator yang berhadapan dengan sekian banyak audiens dan dengan latar belakang pendidikan, usia, profesi yang berbeda.

Dalam penyampaian pesan dakwah secara lisan atau langsuang, juru dakwah akan berhadapan dengan kelompok audiens yang mempunyai kecenderungan sama. Sehingga para juru dakwah dapat menampilkan penyampaian pesan dakwah yang sesuai dengan kebutuhan.

Baik penyampaian dakwah secara langsung atau tidak langsuang, jelas mempunyai perhubungan yang tidak dapat dipisahkan dengan proses komunikasi mengingat komunikasi mempunyai sifat baik secara langsung atau tidak langsunag.

  1. Tujuan Komunikasi Dakwah

Tujuan dakwah ataupun tujuan komunikasi memiliki kesamaan, komunikasi dan dakwah memiliki tujuan untuk merubah prilaku orang yang diajak berkomunikasi atau orang yang sedang menerima dakwah agar mengikuti seruan atau ajakan yang disampaikan. Jalal hanya tidak pernah menyampaikan komunikasi yang dikaitkan dengan dakwah, namun dalam pengertian-pengertian yang diuraikan dalam memahami semua unsur dan kegiatan komunikasi mempunya kesamaan dengan semua unsur dan kegiatan dalam hal dakwah.

Baik tujuan dari komunikasi ataupun tujuan dari dakwah adalah proses dimana seseorang menghendaki adanya perubahan sikap dan tingkah laku orang atau objek komunikasi atau dakwah sesuai dengan harapan si pelaku. Dengan demikian tujuan komunikasi dan dakwah hanya dibedakan pada sudut pandang keilmuan umum dan agama saja.

Tujuan yang hendak dicapai dari komunikasi dakwah itu sendiri memiliki tiga dimensi. Pertama, tujuan awal dimana tujuan daru proses komunikasi dakwah itu adalah terjadinya perubahan pemikiran, sikap dan prilaku dari komunikan. Kedua, tujuan sementara dimana tujuan ini hanya dipokoskan pada perubahan kehidupan selama di dunia saja. Adapun yang hendak dicapai dari tujuan komunikasi dakwah itu sendiri mencakup dua tujuan diatas sampai pada tujuan akhir dimana adanya kebahagiaan di dunia dan akhirat.

  1. Karakteristik Proses Komunikasi Dakwah

Baik komunikasi atau dakwah keduanya dilakuakan baik secara langsung ataupun tidak langsuang. Dalam proses secara langsung komunikasi ataupun dakwah dapat dilakukan melalui dua cara yaitu verbal dan non verbal. Dalam penyampaian pesan verbal komunikasi atau dakwah itu bisa bersifat satu arah ataupun dua arah. Dalam komunikasi atau dakwah non verbal kegiatan ini bisa dilakukan memalui berbagai kegiatan atau iklan-iklan yang tujuannya perubahan sikap dan tingkah laku.

Dalam menyampaikan pesan dakwahnya Jalal telah menggunkan dua bentuk penyampaian pesan dakwah. Pertama verbal, dimana pesan komunikasi dakwah yang dilakukan Jalal menggunkan lisan atau ucapan. Kedua non verbal, yaitu pesan dakwah yang disampaikan melalui tulisan. Dalam melakukan pendekatan kepada audiennys Jalal menggunkan beberapa pendekatan. Yaitu, persuasive dan koersif.

Adapun sifat dari pesan dakwah yang disampaikan oleh Jalal adalah Qaulan sadidan (perkataan yang benar), qawlan balighan (perkataan, sampai), Qawlan maysura, Qawlan layyinan, Qawlan ma’rufan. Kata kunci ini yang menjadikan dasar kesamaan pemikiran Jalaluddin Rakhat baik dalm bidang komunikasi ataupun dalm bidang dakwahnya.

Perubahan tingkah laku akibat proses dari komunikasi atau dakwah tersebut adalah respon dari objek. Respon yang ditanggapi secara positif akan melahirkan tingkah laku atau sikap sesuai dengan yang direncanakan oleh komunikator ataupun da’i. adapun respon negative adalah proses perlawanan sikap komunikan atau mad’u terhadap tujuan yang akan dicapai. Secara sederhana respon merupakan proses reaksi dari aksi yang disampaikan oleh seseorang yang dilakukan baik secara sadar atau tidak sadar.

Karakteristik dari Jalaluddin Rakhmat sendiri bisa menjadikan karya-karya serta pemikirannya mudah diterima dan diikuti oleh orang lain. Gaya penulisan yang tersendiri jalal menjadikan karyanya menjadi sesuatu yang mudah dikonsumsi orang tanpa memerlukan pemikiran yang tinggi. Dengan demikian pemikiran jalal bisa difahami pada setiap tingkatan.

  1. Bentuk-bentuk Komunikasi Dalam Penyampaian Pesan Dakwah

Sebagaimana diuraikan diatas, adanya komunikasi verbal dan non verbal, telah menghantarkan Jalalluddin Rakhmat menjadi seorang cendikiawan muslim yang pemikirannya mudah diterima pada semua golongan. Baik intelektual, pilotisi, akademisi, aktifis sampai pada jamaah pengajian. Selain itu karya-karya Jalal mudah difahami oleh setiap pembacanya, hal ini menunjukkan kedalaman Jalal serta kemampuan dalam penerapan keilmuan komunikasi dan pemahaman agama yang dimiliki.

Bentuk dari komunikasi dakwah yang dilakukan oleh Jalaluddin Rakhmat antara lain ; intra personal, Jalal mampu menerapkan apa yang disampaikan pada proses komunikasi dakwah kedalam aktifitas kehidupan sehari-harinya; inter personal, Jalal mampu berkomunikasi dengan orang-orang disekelilingnya melalui pendekatan psikologi yang dimilikinya serta kematangan dalam bidang komunikasi dakwah; komunikasi kelompok, baik secara langsung yaitu berhadapan dengan audien pada saat mengisi forum ilmiah atau pengajian ataupun secara tidak langsung melalui tulisan atau media televise dapat dilakukan oleh Jalal; komunikasi massa dalam pemikiran Jalaluddin Rakhmat dituangkan dalam buku Psikologi Komunikasi.

Buku ini termasuk kategori the best seller. Pasalnya sampai sekarang ini sudah dicetak ulang 16 kali dengan 2 kali revisi, bahkan pihak penerbit sudah minta revisi yang ketiga kalinya guna cetak ulang yang ke 17. penilis ingin mengajak para pembaca untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan sesama manusia. Karena berdasarkan penelitian, sebagian besar ( sekitar 70 % ) waktu bangun dalam hidup kita ini digunakan untuk komunikasi. Dengan memahami sisi psikologis seseorang dan massa. Kita sanggup membuka “topeng” dan menjawab pertanyaan “mengapa”. Psikologi melihat komunikasi sebagi perilaku manusiawi, menarik, melibatkan siapa saja dan dimana saja dan kapan saja.

  1. Model-model Komunikasi Dalam Penyampaian Pesan Dakwah

1. Dakwah Bil-Lisan

Pertama, Dakwah Bil Lisan. Dakwah bil-lisan yang dilakukan Jalaluddin Rakhmat dilakukan dikampung tempatnya tinggal. Berbekal pengkaderan di Muhammadiyah dan training di Dar al-Arqam.

Bukan itu saja, selain aktif di Majlis Pendidikan Muhammadiyah kotamadya Bandung, Jalaluddin Rakhmat juga mengabdi di Majlis Tabligh Muhammadiyah Jawa barat. Selama menjalani studi di Amerika Serikat, kegiatan dakwah Bil Lisan Jalaluddin Rakhmat di lakukan dengan mengisi khutbah-khutbah jum’at. Di Bandung Jalaluddin Rakhmat selain sering menjadi khotib di tempatnya tinggal, ia juga sering diminta mengisi khutbah dmasjid Salman ITB Bandung.

2. Dakwah Bil-Qolam

Kedua, Dakwah yang di lakukan oleh Jalaluddin Rakhmat adalah menggunakan media massa sebagai media dakwahnya. Kehadiran Jalaluddin Rakhmat dengan visi Islam baru ternyata menjadi kecemasan masyarakat sekitarnya, sehingga Jalaluddin Rakhmat dilarang mengis pengajian di Bandung karena beliau dianggap sebagai agen syi’ah di Indonesia. Hal ini dilakukan oleh Majlis Ulama Indonesia Bandung. Larangan cermah kepada Jalaluddin Rakhmat ternyata membuka pintu lain beliau dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Media massa, menjadi salah satu alternative aktifitas dakwah dan penuangan fikiran-fikiran Jalaluddin Rakhmat.

Sebagai seorang yang ahli dalam bidang komunikasi, Jalaluddin Rakhmat patut disebut sebagai ahli komunikasi yang sepektakular. Hal ini terbukti dengan karya-karya Jalal yang selalu mengalami cetak ulang demi memenuhi kebutuhan konsumen. Buku Psikologi komunikasi yang pada tahun 2003 merupakan hasil dari cetakan ke 20, Islam Alternatif yang pada tahun 2003 mengalami sepuluh kali cetak, Islam Aktual yang pada tahun 2003 telah 14 kali mengalami cetak ulang adalah beberapa karya Jalal yang sangat luar biasa.

3. Dakwah Bil Hal

Ketiga, Dakwah yang dilakukan Jalaluddin Rakhmat dengan mendirikan yayasan yang bermisikan dakwah islam. Dakwah bil hal ini Jalal lakukan dengan mendirikan Yayasan Muthahari di Bandung, kemudian Yayasan Tazkiya Sejati di Jakarta, kemudian Jalaluddin Rakhmat mendirikan jamaah pengajian yang dinamakan Ikatan Jamaah Ahlu al-Bait Indonesia atau IJABI yang sekarang sudah tersebar sampai ke Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung, Surabaya, Semarang, Lampung, Palembang, Banjarmasin, dan kota-kota di Indonesia.

Untuk pengembangan dakwahnya, pada Oktober 1998 bersama-sama Haidar Baqir, Agus Effendy, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, Kang Jalal mendirikan Yayasan Muthahari yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. Karena salah satu tujuan didirikan yayasan ini adalah “Menumbuhkan kesadaran Islami melalui gerakan dakwah yang direncanakan secara professional.

Sukses membangun Yayasan Muthahari di Bandung, Jalal kemudian melebarkan dakwahnya. Kali ini yang menjadi pilihan dalah ibukota Jakarta. Dengan dukungan dana dan fasilitas dari keluarga. H. Sudharmono mantan wakil presiden semasa Orde Baru, Kang Jalal mendirikan pusat kajian tasawuf dengan nama “Yayasan Tazkiya Sejati”, yang beralamat dikawasan perumahan elite Jl. Patra Kuning IX No. 6 Jakarta.

Menurut ustaz Syamsuri salah satu ketua, yayasan Tazkiya Sejati ini memiliki dua tujuan . Pertama, ingin memperkenalkan tasawuf kepada masyarakat perkotaan, Kedua, ingin membentuk manusia yang memiliki dua dimensi. Dimensi pertama, dia sadar akan dirinya, dan mau akan mengingat akan dosa-dosanya dan kembali bertobat kepada Allah. Dimensi kedua, punya kepedulian terhadap esama. Karena betapapun tinggi derajat manusia, jika dia tidak punya kepedulian terhadap sesame kedudukanya itu tidak ada artinya apa-apa.

Dengan kata lain Tazkiya ingin membentuk manusia yang hubunganya dengan sesame baik (hablu min al-nas) dan hubungan dengan tuhan juga baik (habl min Allah). Adapun materi yang diajarkan di Tazkiya ini, khusus mengkaji tasawuf dan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan sufistik, seperti perbedaan tasawuf dengan pseudo sufisme. Materi tasawuf itu sendiri dibagi menjadi dua. Satu, membicarakan tasawuf dalam perspektif Al-Qur’an dan sunah. Dua, berbicara tentang tasawuf pada masa tabiin. Sedang materi lainya sering ditawarkan adalah fadhilah surat yasin, al-fatihah, Tawashul, Tabarruk, macam-macam tharekat dalam tasawuf, dan lain-lain.

Disampig kedua yayasan itu, kini Kang Jalal juga memiliki jamaah baru, khusus bagi para penganut mazzhab syi’ah. Jamaah ini diberi nama IJABI, yang merupakan singkatan Ikatan Jamaah Ahlu al-Bait Indonesia, diman ini sebagai penggagas berdirinya, dan sebagai salah satu ketua Dewan Suro,. Jamaahnya kini sudah ada diberbagai kota seperti: Jakarta Bekasi, Bogar, Bandung, Surabaya, Semarang, Lampung, Palembang, Banjarmasin, dan kota-kota lain, baik dijawa maupun diluar jawa. Bahkan kini memiliki 13 cabang diseluruh Indonesia.

Dari uraian diatas jelas bahwa, Jalaluddin Rakhmat menggunakan tiga model dakwah: Bil Lisan, Bil Qolam, dan Bil Hal. Dalam melakukan aktifitanya, Jalaluddin Rakhmat mempunyai ciri kahas tersendiri, inilah yang membuat keistimewaannya. Dengan mengawali cerita menganai kondisi Islam saat ini, jalal uraikan menggunakan bahasa yang halus dan menyentuh, selain itu Jalaluddin Rakhmat mampu menuangkan pemikirannya dalam aktualisasi diri dengan mendirikan yayasan yang membidangan dakwah Islam model sufi.

Komunikasi satu arah, Jalaluddin Rakhmat menyebut komunikasi demikian sebagai komunikasi yang biadab. Komunikasi dua arah, Jalaluddin Rakhmat menitik beratkan komunikan atau orang yang menyampaikan pesan dakwah untuk menjadian audiens atau orang yang sedang didakwahi sebagai mitra

KOMUNIKASI DAKWAH JALALUDDIN RAKHMAT Bagian Ke 3

Diposkan oleh Tajudin Nur / Category:

PANDANGAN KANG JALAL

TENTANG KOMUNIKASI DAN DAKWAH

  1. Pandangan Jalaluddin Rakhmat Tentang Komunikasi

1. Pengertian dan Tujuan Komunikasi Menurut Jalaluddin Rakhmat

Menurut Jalaluddin Rakhmat, kita tidak dapat menghindari komunikasi. Bahkan diamnya seseorang menurutnya adalah proses komunikasi, karena diam adalah ekspresi dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Dengan komunikasi, manusia mengekspresikan dirinya, membentuk jaringan interaksi social, dan mengembangkan kepribadianya.

2. Proses Komunikasi Menurut Jalaluddin Rakhmat

Proses komunikasi seseorang digolongkan dalam dua model, pertama komunikasi satu arah dimana peran komunikator sangat dominant dan komunikan hanya sebagai pendengar. Pada proses komunikasi semacam ini kedudukan komunikator sangat dominant dalam proses berkomunikasi. Kedua komunikasi dua arah dimana antara komunikator dan komunikan bersifat sejajar. Pada proses ini komunikasi yang terjadi adalah komunikasi yang dialogis.

Dalam komunikasi yang dialogis, komunikator harus memperlakukan khalayaknya sebagai mitra yang setara, bukan objek yang dimanipulasi. Hubungan kita dengan para pembaca adalah hubungan “aku-anda” bukan hubungan “aku-objek”. Pada hubungan yang pertama, kita mengakui jatidiri orang lain; kita mengahargai apa yang mereka hargai. Pada hubungan yang kedua kita tidak mempedulikan orang lain. Kita melihat khalayak sebagai “ikan-ikan” bebal yang harus kita pancing dengan berbagai tehnik. Komunikasi jenis kedua itu menurut jalal biadab, tetapi secara komersial hal tersebut lebih menguntungkan.

Kedua model komunikasi yang dilakukan seseorang pada dasarnya memiliki masing-masing kekurangan dan kelebihan tergantung dari sudut mana seseorang tersebut menilainya. Dalam komunikasi yang disebutkan oleh jalal “aku-anda” mempunyai kecenderungan yang lebih efektif dalam seseorang berkomunikasi.

3. Bentuk dan Model Komunikasi Jalaluddin Rakhmat

Dalam mengambil model dan bentuk komunikasi Jalaluddin Rakhmat mengambil kata kunci Al-Bayan dan Al-Qaul yang terdapat dalam Al Qur’an. Al Qur’an menyebut komunikasi sebagai fitrah manusia sebagai mana yang terkandung dalam Al Qur’an pada surat Ar Rahman ayat 1-4

Artinya : Yang Mahakasih Mengajarkan Al-Qur’an Menciptakan insan. Mengajarkannya Al-Bayan. (Q.S. Ar Rahman : 1-4)

Al bayan diartikan kemampuan berkomunikasi. Menurut Jalaluddin Rakhmat, selain kata al-bayan, kata kunci untuk komunikasi yang banyak disebut dalam Al Qur’an adalah Al-qaul. Dengan memperhatikan kata al-qaul dalam konteks perintah “amar” maka kemudian Jalaluddin Rakhmat menyimpulkan ada enam prinsip komunikasi :

Pertama, Qaulan sadidan (perkataan yang benar)

Qs. An Nisaa’ : 9

Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Kedua, Allah memerintahkan qaulan sadidan sesudah kata takwa,

(QS. Al Ahzab:70)

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,

Kata qawlan sadidan disebut dua kali dalam Al Qur’an. Pertama Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan dalam urusan anak yatim dan keturunan. Kedua Qaulan sadidan adalah pembicaraan yang benar, jujur, lurus, tidak bohong, tidak berbeit-belit. Prinsip komunikasi yang pertama menurut Al Qur’an adalah berkata yang benar.

Jalal dalam memahami kebenaran yang dimaksud dalam ayat-ayat diatas mengandung beberapa pengertian : Pertama, Sesuai dengan criteria kebenaran. Untuk orang Islam ucapan yang benar tentu ucapan yang sesuai dengan Al Qur’an, Al Sunah dan ilmu. Kedua, tidak bohong atau ucapan yang jujur. Karena dusta akan membawa kepada hal dosa, dan dosa akan membawa manusia kepada neraka.

Jalaluddin rakhmat selanjutnya mengambil kata Qawlan balighan dalam memahami komunikasi.

Qs. An Nisa:63

Artinya : Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Artinya Berkatalah kepada mereka dengan qaulan balighan Kata baligh dalam bahasa arab artinya sampai, mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan qawl (ucapan atau komunikasi), baligh berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Karena itu,prinsip qawlan balighan dapat diterjemahkan dalam prinsip komunikasi yang efektif.

Bagaimana perincian Al Qur’an tentang qawlan balighan? Menurut Jalal yang pertama, qawlan balighan terjadi, bila komunkator menyesuaikan pembicaraannya dengan sifat-sifat khalayak yang dihadapinya.

Kedua, qawlan balighan terjadi bila komunikator menyentuh khalayaknya pada hati dan otaknya sekaligus. Dalam pandangan jalal, setiap da’i muslim adalah pelanjut para rasul. Komunikasinya efektif hanya bila dan hanya bila (only if) ia menyerap sinar kemahamulyaan dan kemahatahuan Allah dalam dirinya.

Dalam teori komunikasi moderen, sifat mulia itu disebut trusworthiness dan sifat tahu itu disebut expertness. Berbagai penenlitian membuktikan bahwa orang cenderung mengikuti pendapat atau keyakinan orang yang yang dianggap jujur (terpercaya) dan memiliki keahlian.

Qawlan maysuran

Qs. Al Israa’:28

Artinya : Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.

Qawlan layyinan

Qs. Thaahaa :44

Artinya : Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Qawlan kariman

( QS. Al Israa’:23)

Artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Qawlan ma’rufan

(QS An Nisaa’:5)

Artinya : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

Menurut jalal, penelitian komunikasi menunjukkan bahwa perubahan sikap lebih cepat terjadi dengan imbauan (appeals) emosional. Tetapi dalam jangka lama, imbauan rasional memberikan pengaruh yang lebih kuat dan lebih stabil.

  1. Pandangan Jalaluddin Rakhmat Tentang Dakwah
    1. Definisi dan Hakikat Dakwah Menurut Jalaluddin Rakhmat

Konsep manusia sebagai pengontrol informasi (The Person as Information Processor). Dalam konsep ini, manusia bergeser dari orang yang suka mencari justifikasi atau membela diri menjadi orang yang secara sadar memecahkan persoalan. Prilaku manusia dipandang sebagai produk strategi pengolahan informasi yang rasional.

Khotbah dimaksudkan untuk “menggelitik”, menyentuh hati, atau menggerakan orang untuk bertindak. Di dalam menyampaikan materi-materi dakwah, juru dakwah tidak hanya mengambil materi-materi yang akan menjadikan mad’u bosan. Kebosanan mad’u bisa terjadi karena, materi yang disampaikan bukan materi yang menjadi kebutuhan, akan tetapi tidak lebih dari sebuah cerita lama tentang akhirat saja.

Hadirnya materi dakwah lebih menekankan pada penomena-penomena social masyarakat Islam dewasa ini. Sehingga mad’u akan tergerak oleh fenomena kehidupan yang sedang terjadi, baik secara social, ekonomi, politik, budaya ataupun persoalan-persoalan yang lainnya.

Adalah sedih menyadari bahwa kita, kaum muslimin, dewasa ini bukanlah penguasa-penguasa bumi sebagaimana seharusnya. Kita akan merasa malu bila kita tahu bahwa ummah ini, yang mengklaim sebagai ummah terbai, hanyalah sebuah mainan kecil yang berada di tengah para kafir dan musyrik.

Allah mengaruniakan kemulyaan bukan kepada mereka yang terkaya, bukan pula kepada mereka yang terlahir dalam bangsa tertentu, yang terbaik ialah umat yang menyerukan kebaikan dan melarang kemungkaran sementara mereka beriman kepada Allah.

Seperti halnya Jalaluddin Rakhmat menilai fenomena persoalan umat Islam saat ini, taklain hanya sebagai komunitas yang lemah. Lemahnya Sumber Daya Manusia Islam saat ini salah satunya dikarenakan kesalahan sistem pendidikan yang berlaku. Jalal membatasi pendidikan dalam pengertian sebagai upaya mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku orang secara progresif melalui lembaga-lembaga formal.

Dakwah dalam pendidikan harus sanggup memperkenalkan Muhamad SAW sebagai teladan, menanamkan kecintaan dan perasaan ta’zim terhadapnya. Pendidikan menurut Jalaluddin Rakhmat mempunyai kewajiban untuk merubah secara sistematis keadaan masyarakat Islam.

Ilmu dakwah seharusnya tidak lagi membicarakan makna “hikmah” dan “mujadalah tetapi mengupas psikologi komunikasi, penggunaan media masa, atau pengembangan analisis system informasi. Akan tetapi dakwah sebagai suatu ikhtiar untuk menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat.

Sebagaimana ritus agama tidak lengkap tanpa khutbah, maka televise pun tidak sempurna tanpa iklan. Setuju atau tidak, kehidupan kita dan keluarga kita selanjutnya akan tergerakkan oleh iklan.

Karena penyakit adaptasi itu juga menimbulkan aliensi (keterasingan orang dari dirinya), da’i harus mengembalikan mereka kepada dirinya. Penge,balian kepada sang diri hanya dapat dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Para da’i adalah agen sosialis nilai-nilai Islam. Mereka ditantang untuk bersaing dengan agen-agen hiburan yang global. Sekarang para kiai tidak cukup hanya membacakan kisah-kisah dari Al Qur’an, sirah Nabi, atau buku-buku seperti Durratun Nasihin; mereka harus mengemasnya dengan memanfaatkan teknologi mutakhir. Penggunaan media massa oleh para da’i menjadi sangat vital.

Islam sekarang bukan lagi Islam yang sectarian. Kaum muslim tidaklagi melihat mazhabnya. Mereka melihat dunia Islam yang tunggal. Dalam suasana seperti ini, para da’i harus siap membuka diri terhadap pandanga-pandangan yang bermacam-macam.

Para da’i harus mengembangkan system informasi. Harus dilakukan koordinasi antar lembaga dakwah untuk mengembangkan berbagai data base system-untuk perkembangan dakwahdan pemikiran Islam. Laboratorium dakwah, yang menghimpun data tentang khalayak dan materi dakwah, harus didirikan dengan menggunakan teknologi komunikasi mutakhir. Akibat kemajuan teknologi, masyarakat semakin lebih rasional.

Para da’i para pelanjut Rasulullah SAW., tidak boleh bertindak pasif.

Manusia mencela zaman

Padahal tak ada cela pada zaman selain pada diri kita

Kita kecam zaman padahal kecaman itu ada pada kita

Sekiranya zaman dapat berkata

Ia akan menggugat kita.

Dalam pandangan Jalal, setiap da’i muslim adalah pelanjut para rasul. Komunikasinya efektif hanya bila dan hanya bila (only if) ia menyerap sinar kemahamulyaan dan kemahatahuan Allah dalam dirinya.

2. Dasar Kewajiban Berdakwah Menurut Jalaluddin Rakhmat

Dasar kewajiban berdakwah menurut Jalaludin Rakhmat adalah sebagaimana dasar kewajiban berdakwah yang ada dalam Al Qur’an. Kata dakwah yang telah menjadi bahasa Indonesia, merupakan bentuk jamak dari kata da’a, yad’u, dengan bentuk masdarnya kata da’watan. Secara harfiah kata dakwah mengandung arti seruan, ajakan panggilan dan undangan.

QS. Yunus 25

Artinya : Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).

Kata tabligh, (QS Al Ahzab, 39)

Artinya : (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.

Menyampaikan berita gembira, tasbih ( Az Zumar 17)

Artinya : Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,

Memberi peringatan QS Al A’la : 9

Artinya : oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa'at,

Memberi peringatan maw’idzah QS An Nahl 125

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

3. Bentuk-bentuk Dakwah Menurut Jalaluddin Rakhmat

Dalam menentukan bentuk-bentuk dakwah, Jalaluddin Rakhmat mengacu pada firman Allah dalam Al Qur’an :

Artinya : Orang-orang yang mengikuti Nabi yang ummi, yang namanya mereka temukan termaktub dalam Taurat dan Injil di sisi mereka : memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar, menghalalkan yang baik, mengkaramkan yang jelek, dan melepaskan beban dari mereka dan belengu-belenggu yang (memasung) meraka, maka barangsiapa beriman kepadanya, memulyakannya, mambantunya serta mengikuti cahaya yang diturunkan besrtanya , mereka itulah orang-orang yang beriman.’ ( QS. Al A’rafa:157)

Qs. Ali Imran: 164

Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Qs. Ali ‘Imaran : 129

Artinya : Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki; dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Qs. Al Juma’ah :2

Artinya : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Dari ayat pertama Jalal melihat ada tiga bentuk dakwah, amal ma’ruf nahi munkar, menjelaskan yang halal dan yang haram (syariat Islam), meringankan beban penderitaan, dan melepaskan umat dari belenggu-belenggu.

Sementara dari ayat kedua Jalal meliah ada tiga bentuk dakwah : tilawah ( membaca ayat-ayat Allah), tazkiyah (menyucikan diri mereka), dan ta’lim (mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah). Pengajaran model ta’lim ini disebut juga dakwah fardiah (perseorangan).

Oleh jalal amal ma’ruf dan nahi munkar dimasukkan dalam tazkiyah dan menjelaskan hal-hal yang haram termaksuk ta’lim.

Dengan demikian, dakwah Islam dapat disimpulkan dengan empat bentuk : tilawah, tazkiyah, ta’lim dan ishlah.

Ilmu dakwah seharusnya tidak lagi membicarakan makna “hikmah” dan “mujadalah” tetapi mengupas psikologi komunikasi, penggunaan media masa, atau pengembangan analisis system informasi.

4. Proses Dakwah Menurut Jalaluddin Rakhmat

Penyampaian pesan sebagaimana yang dikemukakan oleh Jalaluddin Rakhmat pada pengertian komunikasi, adanya proses komunikasi dua arah “ aku-anda”. Pengakuan terhadap jati diri komunikan adalah proses penyampaian pesan dakwah yang baik untuk dilakukan oleh setiap juru dakwah. Dengan proses penyampaian pesan dakwah semacam ini, komunikan dan komunikator duduk sejajar sebagai mitra yang saling menghargai.

Bila dibandingkan dengan komunikasi “aku-objek”, Jalal mengartikan komunikan sebagai ikan atau batu yang fungsinya hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh komunikator. Komunikasi demikian oleh jalal disebut sebagai komunikasi yang biadab. Juru dakwah hendaknya melakukan proses dakwah yang disesuaikan dengan kondisi mad’unya. Sehinga apa yang disampaikan oleh da’i relative dapat mudah diterima dan difahami.

5. Sasaran dan Tujuan Dakwah Menurut Jalaluddin Rakhmat

Sasaran dari kegiatan dakwah menurut Jalaluddin Rakhmat semua umat masyarakat muslim pada setiap lapisan dan golongan. hal ini sesuai dengan sosok da’i yang hadir dalam berbagai sosok atau modelnya. Da’i menurut jalal harus menyesuaikan dengan kondisi dimana kegiatan dakwah itu dilakukan. Karena dai memiliki tugas besar untuk membangun sebuah tatanan masyarakat rakyat yang bernuansa Islam.

Adapun tujuan dari kegiatan dakwah menurut Jalaluddin Rakhmat adalah adanya perubahan sikap. Perubahan sikap ini tentunya mengarah sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam yang sudah digariskan kepada manusia melalui Al-Quran dan As-Sunah.

Kemakmuran, keberhasilan atau pencapaian apa yang kita inginkan atau kita cari; sesuatu yang dengannya kita berada dalam keadaan bahagia atau baik; terus menerus dalam keadaan baik; menikmati ketentraman, kenyamanan; atau kehidupan yang penuh berkah; keabadian, kelestarian, terus menerus, keberlanjutan. Merupakan komponen-komponen kebahagiaan.

Secara tegas, kebahagiaan yang dimaksud oleh Jalal adalah kebahagiaan yang bersifat menyeluruh, kebahagiaan yang menyangkut kehidupan manusia di dunia sampai pada kebahagiaan di akhirat atau kebahagiaan yang hakiki.

KOMUNIKASI DAKWAH JALALUDDIN RAKHMAT Bagian Ke 2

Diposkan oleh Tajudin Nur / Category:

NAPAK TILAS KEHIDUPAN KANG JALAL

  1. Latar Belakang Keluarga dan Kelahirannya

Jalaluddin Rakhmat, ia dilahirkan di desa Bajongsalam, Kecamatan Rancaekek Bandung pada tanggal 29 Agustus 1949. ayah Jalaluddin Rakhmat bernama Hi. Rahmat sedangkan ibunya bernama Sadja’ah. Hi. Rahmat ayah Jalaludin Rahmat adalah seorang aktifis Masyumi yang bercitc-cita mendirikan Negara Islam.

Selain seorang lurah ditanah kelahiran Jalal, ayah Jalal yaitu, Hi. Rahmat juga seorang kiai atau Ajengan sebutan orang sunda. Sebagai kiai kampung, ayah Jalal memiliki pengaruh yang besar oleh karena pemikirannya yang sudah mulai moderen, selain itu Hi. Rakhmat juga sebagai seorang organisatoris, Dengan demikian, meski tidak pernah mondok dipesantren Jalaludin Rahmat telah mempunyai bekal agama yang diterima semasa kecil dari ayahnya.

Karena kondisi sosoal politik saat itu, untuk kemenanganya Hi. Rahmat yang bercita-cita mendirikan Negara Islam terpaksa berhijrah ke Sumatra bersama dengan DI/TII dan baru kembali setelah situasi dirasa aman. Kepergian ayah Jalaluddi Rakhmat tidak menjadikan ibu Jalal berkecil hati, bahkan ibu Jalal mempunyai keinginan kuat untuk menjadikan Jalaluddin Rakhmat orang pandai, dan berpendidikan, dan akhirnya cita-cita itu tercapai sampai Jalal menjadi seorang cendikiawan muslim yang terkenal.

Jalaluddin Rakhmat yang saat itu hidup dalam kesederhanaannya memiliki jiwa dan semangat yang besar dalam meraih cita-cita. Sehingga Jalal kecil dalam kesibukannya mempertahankan hidup dengan sang ibu tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang pelajar, melalui kegemaran membaca buku itulah kemampuan Jalal kecil selalu unggul dalam pelajaran dan pengetahuan.

Dalam kegemarannya membaca buku Jalaluddin Rakhmat tidak hanya buku-buku agama, karya-karya ilmiah, maupun filsafat, namun juga berjilid-jilid buku silat karya Kho Ping Ho. Hal ini yang menjadikan Jalal berfikiran luas, disamping itu Jalal juga mulai mengembangkan kemampuannya kedalam bentuk tulisan yang kemudian dimuat di media-media masa.

  1. Latar Belakang Pendidikan dan Pengabdiannya

Pendidikan formal dimulai dari sekolah Dasar di kampungnya, setamat SD, ia meninggalkan kampung halamanya guna melanjutkan sekolah SMP Muslim III Bandung. Sejak duduk dibangku SMP, prestasi akademik Jalaluddin Rakhmat terlihat menonjol. Selama SMP ia menjadi juara kelas sehingga selama sekolahnya Jalaluddin Rakhmat hanya membayar satu kuartal saja sedangkan sisanya geratis.

Selesai SMP Jalaluddin Rakhmat melanjutkan studynya ke SMA II Bandung. Minder dan gelisah, itulah perasaan Jalal ketika SMA, ia merasa minder karena berkacamata, berkulit hitam, bertubuh kerempeng dan paling miskin disekolahnya, namun disisi lain kegelisahannya oleh kerena membaca buku tidak terakomodasi di sekolahnya. Namun hal demikian tidak menjadikan Jalal kecil lemah dan patah semangat malah menjadikannya motivasi sehingga ia menghabiskan hari-harinya hanya untuk membaca sampai dia lulus SMA.

Dengan bekal ijasa SMA nya Jalaluddin Rahmat melanjutkan studynya ke fakultas Publistik UNPAD yang sekarang berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Komunikasi. Tentang kuliahnay di Fakultas Publistik berawal dari ketidak sengajaan. Oleh karena desaakan ekonomi, maka Jalaludin Rahmat mengikuti saran dari teman-temanya agar kuliah publistik yang waktu itu masuk sore. Bersamaan dengan itu Jalaludin Rahmat juga menganbil Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP).

Pada tahun 1980, Jalaludin Rahmat mendapat bea siswa Fullbright dari State Universiti AS, program ini ia selesaikan dua tahun dan pada tahun 1982 Jalaludin Rahmat pulang dengan memboyong gelar Master Of Science di bidang komunikasi. Program doktornya diambilnya di Australian National University (ANU) Australia dengan mengambil program Ilmu Politik. Pada tahun 2001, Jalaludin Rahmat dikukuhkan menjadi guru besar Ilmu Komunikasi pada Unifersity Padjajaran Bandung.

Sementar pendidikan non formal Jalaludin Rahmat sejak ia masih dikampung halamanya. Ibu Jalaludin Rahmat telah menitipkan kepada bapak Sidiq yang merupakan kiai NU yang pemahaman agamanya cukup mendalam. Melalui Kiai Sidiq inilah pertama Jalaluddin Rakhmat dikenalkan membaca Al-Qur’an dan Ilmu Nahwu, dan kitab Jurumuyah dan Shorif. Dimana kedua Ilmu ini yang menjadi penting bagi Jalaludin Rahmat guna memahami teks-teks bahasa Arab. Melalui Kiai Sidiq ini juga Jalaludin Rahmat dikenalkan dan memahami kitab Alfiah Ibnu Malik, keinginanya untuk lebih memperdalam agamanya Jalaludin Rahmat ditempuh dengan masuk pesanteren salaf saat itu, namun kedatangan Jalaludin Rahmat hanya berbekal beras dan pakaian tanpa diantar oleh orang tuanya maka kehadiran Jalaludin Rahmat ditolak oleh pihak pesanteren. Masa ini Jalaludin Rahmat alami ketika ia duduk semasa SMA.

  1. Aktifitas Dakwah Jalaluddin Rakhmat

Secara sederhana, kegiatan dakwah Jalaluddin Rakhmat dimulai sejak menjadi kader Muhammadiyah, selesai mengikuti training di Dar al Arqam Bandung Jalaluddin Rakhmat memulai dakwah di kampungnya, sebagai kader muda yang fanatic Jalaluddin Rakhmat menjadikan keputusan Majlis Tarjih Muhammadiyah sebagai modal dakwahnya. Sampai akhirnya Jalaluddin Rakhmat diminta aktif di Majlis Pendidikan Pengajaran Dan Kebudayaan (MPPK) Muhamadiyah Bandung. Selain itu Jalaluddin Rakhmat juga aktif mengabdi di Majlis Tabligh Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat.

Ketika sedang mengambil program Master di Amerika, Kang Jalal bersama Ir. Imaduddin Abdulrahim dan kawan-kawan, aktif membina kelompok pengajian di Masjid Dar al-Arqam, Ames Iowa. Jalal sendiri sering menjadi khatib Jum’at.

Sepulangnya studi di Amerika Serikat, Jalaluddin Rakhmat lebih terkenal sebagai seorang penceramah atau Da’i ketimbang sebagai seorang pakar ilmu komunikasi, sehingga kegiatan ceramah jalal selalu mewarnai kegiatan-kegiatan keagamaan di kota tempatnya tinggal, Bandung.

Sekitar 1983-1985, Kang Jalal aktif memberikan kuliah subuh di masjid Salman ITB. Kehadiran Jalaluddin Rakhmat dengan membawa visi baru Islam dengan didukung kemampuan retorika yang sangat khas, menjadikan sosok Jalaluddin Rakhmat adalah figure yang kompeten dalam melaksanakan dakwah di zaman yang sedang berkembang. Selain membawa pemahaman Islam yang lebih rasional dan membumi, Jalaluddin Rakhmat juga dalam menyampaikan materi dakwahnya selalu lebih membela kepentingan masyarakat yang lemah di bidang ekonomi, pendidikan, dan politik atau kaum mustadl’afin.

Karena pemikirannya yang revolusioner, Jalaluddin Rakhmat sempat di cap sebagai agen syi’ah dan dianggap meresahkan masyarakat. maka pada tahun 1985 dai pun “diadili” oleh Majlis Ulama Kotamadya Bandung. Buntut dari pengadilan tersebut jadwal ceramah dan khutbah Kang Jalal dicoret, dan ia pun dilarang untuk ceramah di Bandung.

Larangan ceramah yang dikeluarkan oleh MUI kota Bandung tidak menghentikan langkah Kang Jalal untuk tetap berdakwah. Meskipun kali ini dakwahnya lebih banyak dakwah tulisan. Kerena ketika ada larangan ceramah, Kang Jalal lebih banyak menul;is artikel dan buku. Tidak lama kemudian, undangan untuk ceramah pun datang dari yayasan Pramadina milik Dr. Nurcholis Madjid. Jajal diminta menjadi salah satu pengisi materi pada pengajian rutin yang diselengarakan oleh Yayasan tersebut. Dan sejak itu Jalal malah laris ceramah di luar Bandung, dan iapun memiliki akses dan reputasi nasional.

Untuk pengembangan dakwahnya, pada Oktober 1998 bersama-sama Haidar Baqir, Agus Effendy, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, Kang Jalal mendirikan Yayasan Muthahari yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. Karena salah satu tujuan didirikan yayasan ini adalah “Menumbuhkan kesadaran Islami melalui gerakan dakwah yang direncanakan secara professional.

Sukses membangun Yayasan Muthahari di Bandung, Jalal kemudian melebarkan dakwahnya. Kali ini yang menjadi pilihan adalah ibukota Jakarta. Dengan dukungan dana dan fasilitas dari keluarga. H. Sudharmono mantan wakil presiden semasa Orde Baru, Kang Jalal mendirikan pusat kajian tasawuf dengan nama “Yayasan Tazkiya Sejati”, yang beralamat dikawasan perumahan elite Jl. Patra Kuning IX No. 6 Jakarta.

Menurut ustaz Syamsuri salah satu ketua, Yayasan Tazkiya Sejati ini memiliki dua tujuan . Pertama, ingin memperkenalkan tasawuf kepada masyarakat perkotaan, Kedua, ingin membentuk manusia yang memiliki dua dimensi. Dimensi pertama, dia sadar akan dirinya, dan mau akan mengingat akan dosa-dosanya dan kembali bertobat kepada Allah. Dimensi kedua, punya kepedulian terhadap sesama. Karena betapapun tinggi derajat manusia, jika dia tidak punya kepedulian terhadap sesama kedudukanya itu tidak ada artinya apa-apa.

Dengan kata lain Tazkiya ingin membentuk manusia yang hubunganya dengan sesame baik (hablu min al-nas) dan hubungan dengan tuhan juga baik (habl min Allah). Adapun materi yang diajarkan di Tazkiya ini, khusus mengkaji tasawuf dan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan sufistik, seperti perbedaan tasawuf dengan pseudo sufisme. Materi tasawuf itu sendiri dibagi menjadi dua. Satu, membicarakan tasawuf dalam perspektif Al-Qur’an dan sunah. Dua, berbicara tentang tasawuf pada masa tabiin. Sedang materi lainya sering ditawarkan adalah fadhilah surat yasin, al-fatihah, Tawashul, Tabarruk, macam-macam tharekat dalam tasawuf, dan lain-lain.

Disampig kedua yayasan itu, kini Kang Jalal juga memiliki jamaah baru, khusus bagi para penganut mazzhab syi’ah. Jamaah ini diberi nama IJABI, yang merupakan singkatan Ikatan Jamaah Ahlu al-Bait Inonesia, dimana ini sebagai penggagas berdirinya, dan sebagai salah satu ketua Dewan Suro,. Jamaahnya kini sudah ada diberbagai kota seperti: Jakarta Bekasi, Bogar, Bandung, Surabaya, Semarang, Lampung, Palembang, Banjarmasin, dan kota-kota lain, baik dijawa maupun diluar jawa. Bahkan kini memiliki 13 cabang diseluruh Indonesia.

Ditengah kesibukanya mengurus kedua yayasan yang mengharuskan ia mondar-mandir Jakarta-Bandung, ia juga masih sering menghadiri undangan untuk ceramah dan mengisi seminar diberbagai tempat, mengajar pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UNPAD Bandung. Selain itu, Kang Jalal nampaknya masih menyisihkan waktu untuk mengisi pengajian rutin dimasjid al-Munawarah, masjid didekat rumah yang jamaahnya sudah dibina sejak tahun 1980-an. Juga, setiap pagi ia masih sering mengisi pengajian rutin yang disiarkan langsung oleh radio Ramoko di Jakarta.

  1. Karya-Karya Jalaluddin Rakhmat

Jalaludin Rahmat dapat digolongkan kedalam seorang Da’i dan cendikiawan muslim yang produktif. Dalam perjalanan kehidupanya sekitar 53 tahun sekarang, ia sudah banyak menghasilkan karya-karya ilmiah, baik yang berupa buku, majalah, bulletin, makalah, artikel, catatan-catatan yang beredar di toko-toko buku. Dan kini ia sedang mempersiapkan beberapa buku yang akan diterbitkan dalam waktu dekat. Adapun buku-buku yang sudah diterbitkan diantaranya:

  1. Retorika Modern (1984). Buku ini oleh penulisnya dimaksudkan agar para pembaca memahami seluk beluk retorika digunakan, mengenal jenis-jenis pidato. Menurut penulis, retorika penting dipelajari oleh para pemimpin politisi, agamawan (Da’i), pengacara, hakim, dll, agar dalam menjalankan tugas tidak menemukan kesulitan. Buku karya Jalal ini memberikan gambaran kemudahan kepada pembacanya dalam melaksanakan aktifitas dan tugas keseharian. Gaya penulisan yang memiliki gaya komunikatif yang lugas menjadikan buku tersebut mudah dipahami oleh para pembacanya.
  2. Metode Penelitian Komunikasi (1985). Buku ini sampai tahun 1996 sudah cetak ulang sampai 6 kali. Oleh penulisnya, buku ini dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana cara melakukan penelitian komunikasi yang memang cukup penting bagi kehidupan dunia modern seperti sekarang ini. Dalam buku ini dibahas : Metode, model dan tekhnik-tekhnik penelitian komunikasi. Dan sekaligus diberi contoh-contoh bagaimana membuat usulan penelitian untuk keperluan skripsi maupun untuk lembaga-lembaga pemberi dana. Dan yang lebih menarik, buku ini juga di lengkapi contoh-contoh analisis statistic yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu gaya penulisan yang tersendiri selalu digunakan Jalal dalam karya tersebut.
  3. Psikologi Komunikasi (1985). Buku ini termasuk kategori the best seller. Pasalnya sampai sekarang ini sudah dicetak ulang 16 kali dengan 2 kali revisi, bahkan pihak penerbit sudah minta revisi yang ketiga kalinya guna cetak ulang yang ke 17. penulis ingin mengajak para pembaca untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan sesama manusia. Karena berdasarkan penelitian, sebagian besar ( sekitar 70 % ) waktu bangun dalam hidup kita ini digunakan untuk komunikasi. Dengan memahami sisi psikologis seseorang dan massa. Kita sanggup membuka “topeng” dan menjawab pertanyaan “mengapa”. Psikologi melihat komunikasi sebagi perilaku manusiawi, menarik, melibatkan siapa saja dan dimana saja dan kapan saja.
  4. Islam Alternatif (1986). Buku ini merupakan kumpulan dari ceramah-ceramah penulis di Institut Tehnologi Bandung (ITB), sampai saat ini buku tersebut sudah XI kali cetak ulang. Buku ini terdiri dari lima bagian, pertama berbicara Islam sebagai rahmat bagi alam, kedua berbicara Islam sebagai pembebas mustad’afin, ketiga menggunakan tentang Islam dan Pembinaan Masyarakat, keempat membicarakan Islam dan ilmu pengetahuan, dan pada bagian kelima membicarakan Islam dan mazhab Syi’ah. Buku yang ditata oleh Haidar Bagir mendapat kata pengantar dari Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim ini menarik dibaca oleh karena gaya penulisan yang komunikatif juga menyangkup persoalan yang berkembang pada saat penulisnya mengajar di ITB.
  5. Islam Aktual (1991), buku ini merupakan kumpulan dari artikel-artikel yang pernah dimuat di media massa. Mulai dari majalah Tempo, Gala, Kompas, Pikiran Rakyat, Panji Masyarakat, Jawa Post dan Berita Buana. Menurut pengakuan penulis, buku tersebut tidak utuh karena merupakan percikan-percikan pemikiran penulis yang dimaksudkan untuk konsumsi media massa. Sesuai sifatnya media massa yang bersifat informative, kajianya tidak tuntas dan mendalam dari setiap topic-topik yang disajikan. Meski buku tersebut oleh penulisan dikatakan tidak utuh dalam penyajian oleh karena banyaknya tulisan yang tidak terkumpul serta tidak tuntas dan mendalam kerana berupa opini atau artikel yang dimuat dengan kolom terbatas pada media massa, akan tetapi buku tersebut lebih mendalami persoalan-persoalan social yang berkembang saat itu. Dengan penyajian yang khas, Jalal seakan-akan mengajak pembaca untuk larut dalam keadaan yang sebenarnya.
  6. Renungan-renungan Sufistik (1991), meskipun menggunakan judul seperti itu, menurut penulis, pembaca tidak akan memperoleh penjelasan yang dalam layaknya buku Suhrawardi Awarif al Ma’rifah, dan Ihya Ulumuddin, karya sufi besar Al Ghazali. Tetapi kata sufistik diartikan “sufi-sufian”, mirip kata tasauf, yang bearti “bersufi-sufian”. Buku ini mengajak pembaca untuk menyesuaikan diri kita dengan perintah Allah (Muwafaqah), bagaimana mencintai para Rasul dan Imam suci, dan saling menyayangi hamba Allah (Munasabah), bagaimana melawan keinginan hawa nafsu (Mukhalafah), serta bagaiman memerangi setan (Muharobah).
  7. Reformasi Sufistik (1998), seperti buku Jalal yang lain, buku impian merupakan respon penulis atas berbagai persoalan yang sedang terjadi ditengah masyarakat, mulai dari politik, kepemimpinan nasional, kekerasan social, demokrasi, keadilan, figure pemimpin Nabi sampai persoalan sufistik. Digunakan nama reformasi pada judul ini tentunya tidak luput dari situasi social yang berkembang saat itu, sisilain mungkin karena pertimbangan bisnis agar lebih menarik dan actual.
  8. Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer (1998), buku ini seerti dikatakan editor Harnowo, merupakan kumpulan dari Tanya jawab pengajian yang diasuh Jalal mulai dari tahun 90-an sampai 1998, baik yang berlangsung di masjid Salman ITB Bandung maupun di masjid Jami’ Al Munawaroh Bandung. Editor membagi buku ini kedalam empat bagian; pertama, membahas masalah Mu’amalah, Kedua Bahasan seputar ibadah magdah, ketiga membahas masalah Ahl al bait, dan bagian yang keempat menyajikan tafsir hadis dan masalah-masalah kontemporer.

Buku ini berusaha menyajikan jawaban dari pertanyaan dari ceramah-ceramah ilmiah Jalal, sehingga buku tersebut memberikan ulasan yang khusus dari beberapa persoalan yang dibicarakan secara tuntas.

  1. Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufistik (1999), seperti pada buku-buku Jalal sebulumnya, isi pesan dalam buku ini juga hampir sama dengan pesan buku-buku terdahulu. Hanya ada sedikit perbedaan, kalau dibandigkan dengan buku reformasi sufistik, buku ini banyak mengangkat persoalan sufistik. Lewat buku ini, penulis mengajak para pembaca bagaimana berusaha menjadi kekasih Allah seperti uraian pada bab I. caranya melalui ibadah ritual dan ibadah social seperti penjelasan yang terdapat pada bab II dan bab III penulis juga mengajak kita untuk melihat kembali sejarah masalalu umat Islam (bab IV) sedangkan pada bab V disajikan tafsir surat-surat pendek.
  2. Tafsir Sufi Al Fatihah (1999), menurut penulis yang terdapat dalam pengantar buku tersebut, memang sampai sekarang tafsir sufi (tafsir isyari) atau disebut juga tafsir simbolis, keberadaannya masih diperdebatkan karena seperti ditulis oleh Al-Zarkani tafsir ini adalah Tawil Al Qur’an tanpa mengambil makna lahirnya, untuk menyingkatkan petunjuk tersembunyi yang pada para pelaku suluk dan ahli tasauf. Namun demikian Jalal nampaknya ingin meyakinkan kapada para pihak yang keberatan dengan tafsir sufi ini, dengan membeberkan apa itu tafsir dan apa itu takwil. Secara garis besar buku ini membahas apakah tafsir sufi itu diperlukan atau menyesatkan. Tafsir dan takwil, nama-nama surat Al Fatihah, Tafsir Isti’adzah, kasykul (setrategi iblis)
  3. Rekayasa Sosial Reformasi atau Refolusi ? (1999), gelombang reformasi pasca Orde Baru memunculkan isu-isu utama tentang perubahan social. Apakah perubahan social itu sesuatu yang ada dalam jangkauan iktiari? Atau sesuatu yang determinan?. Kalau bersifat iktiari, maka setiap waktu perubahan itu bisa dilakukan melalui upaya-upaya yang berjalan secara alamiah atau normal. Tetapi kalau perubahan itu bersifat tergantung, maka harus ada upaya secara radikal yang disusun, guna mengubah penyumbatan dalam system tatanan social yang ada. Inilah yang sering disebut istilah refolusi. Kalau itu yang terjadi, maka biaya atau kost yang akan dibayar terlalu mahal. Menurut penulis, untuk melakukan perubahan pada masyarakat, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah merubah cara fakir masyarakat, tanpa melalui proses ini maka perubahan akan sulit terjadi.
  4. Rindu Rasul (2001), melalui buku ini Jalal ingin menceritakan pada pembaca, bagaimana dahulu ia tidak suka solawat yang macam-macam, membaca berjanji, minta syafaat kepada Nabi. Paham modernis yang merasuki fikiran, serta kepongahan intelektual yang palsu telah menjauhkan Jalal dari cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Demikian pengakuan penulis dalam pengantar buku ini. Maka lewat buku ini ia ingin menumpahkan kerinduannya pada Rasul kesayangannya yang untuk sementara waktu kurang diindahkan. Secara khusus buku ini mengajak pembaca untuk lebih dekat, mengenal, memahami dan mencintai Rasul manusia pilihan, Nabi Tauladan dan pemberi syafa’at dihari kemudian. Dalam buku ini, penulis mengajak pembaca untuk merenungi kehidupan dengan menyadari hakikat manusia hidup di dunia sebagai hamba Allah.
  5. Didahulukan Akhlak Diatas Fiqh (2002), pada intinya buku ini berisi pesan penulis agar umat Islam tidak terpecah belah oleh karena peradaban fiqh yang diyakini. Karena seperti pada kata pengantar, penulis memaparkan berbagai peristiwa yang kurang harmonis sebagai akibat dari perbedaan fiqh diantara masyarakat Islam. Bahkan karena pemahaman fiqh yang ia yakini banyak masyarakat muslim yang kesulitan menjalankan agamanya. Seperti seorang mahasiswa yang urung mendapat gelar doctor disalah satu unipersita di Jepang oleh karena ia tidak bisa makan masakan orang kafir. Menurut penulis, buku ini kesetian yang berlebihan pada fiqh akan mengukur kesalehan seseorang dengan ukuran sufi. Baik tidaknya seseorang akan dinilai sejauhmana ia menjalankan fiqh yang diyakini. Padahal fiqh sendiri sesungguhnya adalah pemahaman para ulama tentang syari’ah yang kemungkinan kebenarannya juga tidak mutlak. Penulis juga berpendapat, bahwa demi persaudaraan, maka seseorang boleh meninggalkan fiqh yang diyakini. dalam beberapa kasus yang contohkan penulis menyaksikan adanya khilafiyah atau perbedaan antar golongan umat Islam yang kemudian menjadi bibit perpecahan. Buku yang memiliki cirri khas gaya penulisan ini menarik dan mudah dibaca oleh siapa saja dan pada level manapun.
  6. Khutbah Khutbah di Amerika (2002), buku ini merupakan kumpulan khutbah-khutbah Jalaluddin Rakhmat di kampus-kampus Amerika Serikat, naskah-naskah yang semula ditulis dalam bahasa inggris kemudian dikumpulkan dalam buku khusus. Meski demikian, oleh Jalal sebagai pelengkap kemudian di tambahkan beberapa khutbah Idul Fitri, Idul Adha dan Khutbah Nikah yang dilakukan di Indonesia. Hal ini sebagai upaya mengganti atau pelengkap dari teks-teks khotbah di Amerika yang tidak lagi diketahui dimana adanya. Selain itu buku ini menunjukkan kemampuan Jalal dengan pengetahuan di bidang komunikasinya pada masyarakat asli. untuk tidak hanya sekedar diterima saja jalal mampu memberikan tausiah kepada masyarakat kampus di Amerika yang memiliki latar belakang keaneka ragaman. Serta memiliki perbendaan budaya yang jauh antara komunikator atau dai dengan komunikan atau mad’unya.
  7. Meraih Kebahagiaan (2002) buku ini akan menjelaskan kepada pembacanya, bahwa kebahagiaan menurut Jalaluddin Rakhmat adalah pilihan. Buku ini bercerita tentang suasana keluarga besar Jalal, selain itu buku ini menerangi pembacanya dalam menuju kebahagiaan dengan menunjukkan jebakan-jebakan kebahagiaan; sukses, kekayaan, dan kesenangan. Diawali dengan cerita hari ulang tahun kek Jalal, karma saat buku ini ditulis jalal sedang merayakan hari ulang tahunnya. Dihadapan keluarga istri, anak, menantu dan para cucu nya, linangan air mata kebahagiaan Jalal mengalir.

Buku yang kemudian menceritakan bagaimana konsep kebahagiaan menurut jalal serta kebahagiaan dalam pandangan agama Islam serta pandangan agama-agama lain tersebut menarik dibaca oleh karena gaya penulisan yang mudah difahami serta memiliki kandungan materi yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang selalu hidup dalam penderitaan.

Serta masih banyak lagi buku-buku karya Jalaluddin Rakhmat yang tidak bisa penulis cantumkan dalam penguatan penelitian ini oleh karena ketersediaan waktu dan biaya. Selain karya-karya Jalal yang dapat penulis uraikan diatas beberapa karya Jalal yang penulis dapat judulnya antara laian : buku Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Rintihan suci Ahli Bait, Tafsir Suci Surat Al Fatihah, Psikologi Agama, Tafsir bi Al Ma’sur, Zainab al Qubr, dan Mencari Pemikiran Baru Dalam Islam.

Selain itu, buku tentang Jalaluddin Rakhmat yang di tulis oleh Drs Rosidi MA (Dosen Fakultas Dakwah IAIN Raden Intan Lampung) sebagai tindak lanjut dari tesis Dakwah Sufistik Jalaluddin Rakhmat yang ditulis pada Program Pasca Sarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2002.

Selain beberapa buku yang belum didapat oleh penulis, Jalaluddin Rakhmat, juga sering diminta oleh para rekan sasama penulis buku untuk memberikan kata pengantar. Serta beberapa tulisan yang berserak dalam jurnal dan karya-karya lainnya banyak belum terangkum dalam penelitian ini.