Klik Dapet Duit

KOMUNIKASI DAKWAH JALALUDDIN RAKHMAT Bagian Ke 2

Diposkan oleh Tajudin Nur / Category:

NAPAK TILAS KEHIDUPAN KANG JALAL

  1. Latar Belakang Keluarga dan Kelahirannya

Jalaluddin Rakhmat, ia dilahirkan di desa Bajongsalam, Kecamatan Rancaekek Bandung pada tanggal 29 Agustus 1949. ayah Jalaluddin Rakhmat bernama Hi. Rahmat sedangkan ibunya bernama Sadja’ah. Hi. Rahmat ayah Jalaludin Rahmat adalah seorang aktifis Masyumi yang bercitc-cita mendirikan Negara Islam.

Selain seorang lurah ditanah kelahiran Jalal, ayah Jalal yaitu, Hi. Rahmat juga seorang kiai atau Ajengan sebutan orang sunda. Sebagai kiai kampung, ayah Jalal memiliki pengaruh yang besar oleh karena pemikirannya yang sudah mulai moderen, selain itu Hi. Rakhmat juga sebagai seorang organisatoris, Dengan demikian, meski tidak pernah mondok dipesantren Jalaludin Rahmat telah mempunyai bekal agama yang diterima semasa kecil dari ayahnya.

Karena kondisi sosoal politik saat itu, untuk kemenanganya Hi. Rahmat yang bercita-cita mendirikan Negara Islam terpaksa berhijrah ke Sumatra bersama dengan DI/TII dan baru kembali setelah situasi dirasa aman. Kepergian ayah Jalaluddi Rakhmat tidak menjadikan ibu Jalal berkecil hati, bahkan ibu Jalal mempunyai keinginan kuat untuk menjadikan Jalaluddin Rakhmat orang pandai, dan berpendidikan, dan akhirnya cita-cita itu tercapai sampai Jalal menjadi seorang cendikiawan muslim yang terkenal.

Jalaluddin Rakhmat yang saat itu hidup dalam kesederhanaannya memiliki jiwa dan semangat yang besar dalam meraih cita-cita. Sehingga Jalal kecil dalam kesibukannya mempertahankan hidup dengan sang ibu tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang pelajar, melalui kegemaran membaca buku itulah kemampuan Jalal kecil selalu unggul dalam pelajaran dan pengetahuan.

Dalam kegemarannya membaca buku Jalaluddin Rakhmat tidak hanya buku-buku agama, karya-karya ilmiah, maupun filsafat, namun juga berjilid-jilid buku silat karya Kho Ping Ho. Hal ini yang menjadikan Jalal berfikiran luas, disamping itu Jalal juga mulai mengembangkan kemampuannya kedalam bentuk tulisan yang kemudian dimuat di media-media masa.

  1. Latar Belakang Pendidikan dan Pengabdiannya

Pendidikan formal dimulai dari sekolah Dasar di kampungnya, setamat SD, ia meninggalkan kampung halamanya guna melanjutkan sekolah SMP Muslim III Bandung. Sejak duduk dibangku SMP, prestasi akademik Jalaluddin Rakhmat terlihat menonjol. Selama SMP ia menjadi juara kelas sehingga selama sekolahnya Jalaluddin Rakhmat hanya membayar satu kuartal saja sedangkan sisanya geratis.

Selesai SMP Jalaluddin Rakhmat melanjutkan studynya ke SMA II Bandung. Minder dan gelisah, itulah perasaan Jalal ketika SMA, ia merasa minder karena berkacamata, berkulit hitam, bertubuh kerempeng dan paling miskin disekolahnya, namun disisi lain kegelisahannya oleh kerena membaca buku tidak terakomodasi di sekolahnya. Namun hal demikian tidak menjadikan Jalal kecil lemah dan patah semangat malah menjadikannya motivasi sehingga ia menghabiskan hari-harinya hanya untuk membaca sampai dia lulus SMA.

Dengan bekal ijasa SMA nya Jalaluddin Rahmat melanjutkan studynya ke fakultas Publistik UNPAD yang sekarang berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Komunikasi. Tentang kuliahnay di Fakultas Publistik berawal dari ketidak sengajaan. Oleh karena desaakan ekonomi, maka Jalaludin Rahmat mengikuti saran dari teman-temanya agar kuliah publistik yang waktu itu masuk sore. Bersamaan dengan itu Jalaludin Rahmat juga menganbil Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP).

Pada tahun 1980, Jalaludin Rahmat mendapat bea siswa Fullbright dari State Universiti AS, program ini ia selesaikan dua tahun dan pada tahun 1982 Jalaludin Rahmat pulang dengan memboyong gelar Master Of Science di bidang komunikasi. Program doktornya diambilnya di Australian National University (ANU) Australia dengan mengambil program Ilmu Politik. Pada tahun 2001, Jalaludin Rahmat dikukuhkan menjadi guru besar Ilmu Komunikasi pada Unifersity Padjajaran Bandung.

Sementar pendidikan non formal Jalaludin Rahmat sejak ia masih dikampung halamanya. Ibu Jalaludin Rahmat telah menitipkan kepada bapak Sidiq yang merupakan kiai NU yang pemahaman agamanya cukup mendalam. Melalui Kiai Sidiq inilah pertama Jalaluddin Rakhmat dikenalkan membaca Al-Qur’an dan Ilmu Nahwu, dan kitab Jurumuyah dan Shorif. Dimana kedua Ilmu ini yang menjadi penting bagi Jalaludin Rahmat guna memahami teks-teks bahasa Arab. Melalui Kiai Sidiq ini juga Jalaludin Rahmat dikenalkan dan memahami kitab Alfiah Ibnu Malik, keinginanya untuk lebih memperdalam agamanya Jalaludin Rahmat ditempuh dengan masuk pesanteren salaf saat itu, namun kedatangan Jalaludin Rahmat hanya berbekal beras dan pakaian tanpa diantar oleh orang tuanya maka kehadiran Jalaludin Rahmat ditolak oleh pihak pesanteren. Masa ini Jalaludin Rahmat alami ketika ia duduk semasa SMA.

  1. Aktifitas Dakwah Jalaluddin Rakhmat

Secara sederhana, kegiatan dakwah Jalaluddin Rakhmat dimulai sejak menjadi kader Muhammadiyah, selesai mengikuti training di Dar al Arqam Bandung Jalaluddin Rakhmat memulai dakwah di kampungnya, sebagai kader muda yang fanatic Jalaluddin Rakhmat menjadikan keputusan Majlis Tarjih Muhammadiyah sebagai modal dakwahnya. Sampai akhirnya Jalaluddin Rakhmat diminta aktif di Majlis Pendidikan Pengajaran Dan Kebudayaan (MPPK) Muhamadiyah Bandung. Selain itu Jalaluddin Rakhmat juga aktif mengabdi di Majlis Tabligh Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat.

Ketika sedang mengambil program Master di Amerika, Kang Jalal bersama Ir. Imaduddin Abdulrahim dan kawan-kawan, aktif membina kelompok pengajian di Masjid Dar al-Arqam, Ames Iowa. Jalal sendiri sering menjadi khatib Jum’at.

Sepulangnya studi di Amerika Serikat, Jalaluddin Rakhmat lebih terkenal sebagai seorang penceramah atau Da’i ketimbang sebagai seorang pakar ilmu komunikasi, sehingga kegiatan ceramah jalal selalu mewarnai kegiatan-kegiatan keagamaan di kota tempatnya tinggal, Bandung.

Sekitar 1983-1985, Kang Jalal aktif memberikan kuliah subuh di masjid Salman ITB. Kehadiran Jalaluddin Rakhmat dengan membawa visi baru Islam dengan didukung kemampuan retorika yang sangat khas, menjadikan sosok Jalaluddin Rakhmat adalah figure yang kompeten dalam melaksanakan dakwah di zaman yang sedang berkembang. Selain membawa pemahaman Islam yang lebih rasional dan membumi, Jalaluddin Rakhmat juga dalam menyampaikan materi dakwahnya selalu lebih membela kepentingan masyarakat yang lemah di bidang ekonomi, pendidikan, dan politik atau kaum mustadl’afin.

Karena pemikirannya yang revolusioner, Jalaluddin Rakhmat sempat di cap sebagai agen syi’ah dan dianggap meresahkan masyarakat. maka pada tahun 1985 dai pun “diadili” oleh Majlis Ulama Kotamadya Bandung. Buntut dari pengadilan tersebut jadwal ceramah dan khutbah Kang Jalal dicoret, dan ia pun dilarang untuk ceramah di Bandung.

Larangan ceramah yang dikeluarkan oleh MUI kota Bandung tidak menghentikan langkah Kang Jalal untuk tetap berdakwah. Meskipun kali ini dakwahnya lebih banyak dakwah tulisan. Kerena ketika ada larangan ceramah, Kang Jalal lebih banyak menul;is artikel dan buku. Tidak lama kemudian, undangan untuk ceramah pun datang dari yayasan Pramadina milik Dr. Nurcholis Madjid. Jajal diminta menjadi salah satu pengisi materi pada pengajian rutin yang diselengarakan oleh Yayasan tersebut. Dan sejak itu Jalal malah laris ceramah di luar Bandung, dan iapun memiliki akses dan reputasi nasional.

Untuk pengembangan dakwahnya, pada Oktober 1998 bersama-sama Haidar Baqir, Agus Effendy, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, Kang Jalal mendirikan Yayasan Muthahari yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. Karena salah satu tujuan didirikan yayasan ini adalah “Menumbuhkan kesadaran Islami melalui gerakan dakwah yang direncanakan secara professional.

Sukses membangun Yayasan Muthahari di Bandung, Jalal kemudian melebarkan dakwahnya. Kali ini yang menjadi pilihan adalah ibukota Jakarta. Dengan dukungan dana dan fasilitas dari keluarga. H. Sudharmono mantan wakil presiden semasa Orde Baru, Kang Jalal mendirikan pusat kajian tasawuf dengan nama “Yayasan Tazkiya Sejati”, yang beralamat dikawasan perumahan elite Jl. Patra Kuning IX No. 6 Jakarta.

Menurut ustaz Syamsuri salah satu ketua, Yayasan Tazkiya Sejati ini memiliki dua tujuan . Pertama, ingin memperkenalkan tasawuf kepada masyarakat perkotaan, Kedua, ingin membentuk manusia yang memiliki dua dimensi. Dimensi pertama, dia sadar akan dirinya, dan mau akan mengingat akan dosa-dosanya dan kembali bertobat kepada Allah. Dimensi kedua, punya kepedulian terhadap sesama. Karena betapapun tinggi derajat manusia, jika dia tidak punya kepedulian terhadap sesama kedudukanya itu tidak ada artinya apa-apa.

Dengan kata lain Tazkiya ingin membentuk manusia yang hubunganya dengan sesame baik (hablu min al-nas) dan hubungan dengan tuhan juga baik (habl min Allah). Adapun materi yang diajarkan di Tazkiya ini, khusus mengkaji tasawuf dan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan sufistik, seperti perbedaan tasawuf dengan pseudo sufisme. Materi tasawuf itu sendiri dibagi menjadi dua. Satu, membicarakan tasawuf dalam perspektif Al-Qur’an dan sunah. Dua, berbicara tentang tasawuf pada masa tabiin. Sedang materi lainya sering ditawarkan adalah fadhilah surat yasin, al-fatihah, Tawashul, Tabarruk, macam-macam tharekat dalam tasawuf, dan lain-lain.

Disampig kedua yayasan itu, kini Kang Jalal juga memiliki jamaah baru, khusus bagi para penganut mazzhab syi’ah. Jamaah ini diberi nama IJABI, yang merupakan singkatan Ikatan Jamaah Ahlu al-Bait Inonesia, dimana ini sebagai penggagas berdirinya, dan sebagai salah satu ketua Dewan Suro,. Jamaahnya kini sudah ada diberbagai kota seperti: Jakarta Bekasi, Bogar, Bandung, Surabaya, Semarang, Lampung, Palembang, Banjarmasin, dan kota-kota lain, baik dijawa maupun diluar jawa. Bahkan kini memiliki 13 cabang diseluruh Indonesia.

Ditengah kesibukanya mengurus kedua yayasan yang mengharuskan ia mondar-mandir Jakarta-Bandung, ia juga masih sering menghadiri undangan untuk ceramah dan mengisi seminar diberbagai tempat, mengajar pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UNPAD Bandung. Selain itu, Kang Jalal nampaknya masih menyisihkan waktu untuk mengisi pengajian rutin dimasjid al-Munawarah, masjid didekat rumah yang jamaahnya sudah dibina sejak tahun 1980-an. Juga, setiap pagi ia masih sering mengisi pengajian rutin yang disiarkan langsung oleh radio Ramoko di Jakarta.

  1. Karya-Karya Jalaluddin Rakhmat

Jalaludin Rahmat dapat digolongkan kedalam seorang Da’i dan cendikiawan muslim yang produktif. Dalam perjalanan kehidupanya sekitar 53 tahun sekarang, ia sudah banyak menghasilkan karya-karya ilmiah, baik yang berupa buku, majalah, bulletin, makalah, artikel, catatan-catatan yang beredar di toko-toko buku. Dan kini ia sedang mempersiapkan beberapa buku yang akan diterbitkan dalam waktu dekat. Adapun buku-buku yang sudah diterbitkan diantaranya:

  1. Retorika Modern (1984). Buku ini oleh penulisnya dimaksudkan agar para pembaca memahami seluk beluk retorika digunakan, mengenal jenis-jenis pidato. Menurut penulis, retorika penting dipelajari oleh para pemimpin politisi, agamawan (Da’i), pengacara, hakim, dll, agar dalam menjalankan tugas tidak menemukan kesulitan. Buku karya Jalal ini memberikan gambaran kemudahan kepada pembacanya dalam melaksanakan aktifitas dan tugas keseharian. Gaya penulisan yang memiliki gaya komunikatif yang lugas menjadikan buku tersebut mudah dipahami oleh para pembacanya.
  2. Metode Penelitian Komunikasi (1985). Buku ini sampai tahun 1996 sudah cetak ulang sampai 6 kali. Oleh penulisnya, buku ini dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana cara melakukan penelitian komunikasi yang memang cukup penting bagi kehidupan dunia modern seperti sekarang ini. Dalam buku ini dibahas : Metode, model dan tekhnik-tekhnik penelitian komunikasi. Dan sekaligus diberi contoh-contoh bagaimana membuat usulan penelitian untuk keperluan skripsi maupun untuk lembaga-lembaga pemberi dana. Dan yang lebih menarik, buku ini juga di lengkapi contoh-contoh analisis statistic yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu gaya penulisan yang tersendiri selalu digunakan Jalal dalam karya tersebut.
  3. Psikologi Komunikasi (1985). Buku ini termasuk kategori the best seller. Pasalnya sampai sekarang ini sudah dicetak ulang 16 kali dengan 2 kali revisi, bahkan pihak penerbit sudah minta revisi yang ketiga kalinya guna cetak ulang yang ke 17. penulis ingin mengajak para pembaca untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan sesama manusia. Karena berdasarkan penelitian, sebagian besar ( sekitar 70 % ) waktu bangun dalam hidup kita ini digunakan untuk komunikasi. Dengan memahami sisi psikologis seseorang dan massa. Kita sanggup membuka “topeng” dan menjawab pertanyaan “mengapa”. Psikologi melihat komunikasi sebagi perilaku manusiawi, menarik, melibatkan siapa saja dan dimana saja dan kapan saja.
  4. Islam Alternatif (1986). Buku ini merupakan kumpulan dari ceramah-ceramah penulis di Institut Tehnologi Bandung (ITB), sampai saat ini buku tersebut sudah XI kali cetak ulang. Buku ini terdiri dari lima bagian, pertama berbicara Islam sebagai rahmat bagi alam, kedua berbicara Islam sebagai pembebas mustad’afin, ketiga menggunakan tentang Islam dan Pembinaan Masyarakat, keempat membicarakan Islam dan ilmu pengetahuan, dan pada bagian kelima membicarakan Islam dan mazhab Syi’ah. Buku yang ditata oleh Haidar Bagir mendapat kata pengantar dari Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim ini menarik dibaca oleh karena gaya penulisan yang komunikatif juga menyangkup persoalan yang berkembang pada saat penulisnya mengajar di ITB.
  5. Islam Aktual (1991), buku ini merupakan kumpulan dari artikel-artikel yang pernah dimuat di media massa. Mulai dari majalah Tempo, Gala, Kompas, Pikiran Rakyat, Panji Masyarakat, Jawa Post dan Berita Buana. Menurut pengakuan penulis, buku tersebut tidak utuh karena merupakan percikan-percikan pemikiran penulis yang dimaksudkan untuk konsumsi media massa. Sesuai sifatnya media massa yang bersifat informative, kajianya tidak tuntas dan mendalam dari setiap topic-topik yang disajikan. Meski buku tersebut oleh penulisan dikatakan tidak utuh dalam penyajian oleh karena banyaknya tulisan yang tidak terkumpul serta tidak tuntas dan mendalam kerana berupa opini atau artikel yang dimuat dengan kolom terbatas pada media massa, akan tetapi buku tersebut lebih mendalami persoalan-persoalan social yang berkembang saat itu. Dengan penyajian yang khas, Jalal seakan-akan mengajak pembaca untuk larut dalam keadaan yang sebenarnya.
  6. Renungan-renungan Sufistik (1991), meskipun menggunakan judul seperti itu, menurut penulis, pembaca tidak akan memperoleh penjelasan yang dalam layaknya buku Suhrawardi Awarif al Ma’rifah, dan Ihya Ulumuddin, karya sufi besar Al Ghazali. Tetapi kata sufistik diartikan “sufi-sufian”, mirip kata tasauf, yang bearti “bersufi-sufian”. Buku ini mengajak pembaca untuk menyesuaikan diri kita dengan perintah Allah (Muwafaqah), bagaimana mencintai para Rasul dan Imam suci, dan saling menyayangi hamba Allah (Munasabah), bagaimana melawan keinginan hawa nafsu (Mukhalafah), serta bagaiman memerangi setan (Muharobah).
  7. Reformasi Sufistik (1998), seperti buku Jalal yang lain, buku impian merupakan respon penulis atas berbagai persoalan yang sedang terjadi ditengah masyarakat, mulai dari politik, kepemimpinan nasional, kekerasan social, demokrasi, keadilan, figure pemimpin Nabi sampai persoalan sufistik. Digunakan nama reformasi pada judul ini tentunya tidak luput dari situasi social yang berkembang saat itu, sisilain mungkin karena pertimbangan bisnis agar lebih menarik dan actual.
  8. Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer (1998), buku ini seerti dikatakan editor Harnowo, merupakan kumpulan dari Tanya jawab pengajian yang diasuh Jalal mulai dari tahun 90-an sampai 1998, baik yang berlangsung di masjid Salman ITB Bandung maupun di masjid Jami’ Al Munawaroh Bandung. Editor membagi buku ini kedalam empat bagian; pertama, membahas masalah Mu’amalah, Kedua Bahasan seputar ibadah magdah, ketiga membahas masalah Ahl al bait, dan bagian yang keempat menyajikan tafsir hadis dan masalah-masalah kontemporer.

Buku ini berusaha menyajikan jawaban dari pertanyaan dari ceramah-ceramah ilmiah Jalal, sehingga buku tersebut memberikan ulasan yang khusus dari beberapa persoalan yang dibicarakan secara tuntas.

  1. Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufistik (1999), seperti pada buku-buku Jalal sebulumnya, isi pesan dalam buku ini juga hampir sama dengan pesan buku-buku terdahulu. Hanya ada sedikit perbedaan, kalau dibandigkan dengan buku reformasi sufistik, buku ini banyak mengangkat persoalan sufistik. Lewat buku ini, penulis mengajak para pembaca bagaimana berusaha menjadi kekasih Allah seperti uraian pada bab I. caranya melalui ibadah ritual dan ibadah social seperti penjelasan yang terdapat pada bab II dan bab III penulis juga mengajak kita untuk melihat kembali sejarah masalalu umat Islam (bab IV) sedangkan pada bab V disajikan tafsir surat-surat pendek.
  2. Tafsir Sufi Al Fatihah (1999), menurut penulis yang terdapat dalam pengantar buku tersebut, memang sampai sekarang tafsir sufi (tafsir isyari) atau disebut juga tafsir simbolis, keberadaannya masih diperdebatkan karena seperti ditulis oleh Al-Zarkani tafsir ini adalah Tawil Al Qur’an tanpa mengambil makna lahirnya, untuk menyingkatkan petunjuk tersembunyi yang pada para pelaku suluk dan ahli tasauf. Namun demikian Jalal nampaknya ingin meyakinkan kapada para pihak yang keberatan dengan tafsir sufi ini, dengan membeberkan apa itu tafsir dan apa itu takwil. Secara garis besar buku ini membahas apakah tafsir sufi itu diperlukan atau menyesatkan. Tafsir dan takwil, nama-nama surat Al Fatihah, Tafsir Isti’adzah, kasykul (setrategi iblis)
  3. Rekayasa Sosial Reformasi atau Refolusi ? (1999), gelombang reformasi pasca Orde Baru memunculkan isu-isu utama tentang perubahan social. Apakah perubahan social itu sesuatu yang ada dalam jangkauan iktiari? Atau sesuatu yang determinan?. Kalau bersifat iktiari, maka setiap waktu perubahan itu bisa dilakukan melalui upaya-upaya yang berjalan secara alamiah atau normal. Tetapi kalau perubahan itu bersifat tergantung, maka harus ada upaya secara radikal yang disusun, guna mengubah penyumbatan dalam system tatanan social yang ada. Inilah yang sering disebut istilah refolusi. Kalau itu yang terjadi, maka biaya atau kost yang akan dibayar terlalu mahal. Menurut penulis, untuk melakukan perubahan pada masyarakat, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah merubah cara fakir masyarakat, tanpa melalui proses ini maka perubahan akan sulit terjadi.
  4. Rindu Rasul (2001), melalui buku ini Jalal ingin menceritakan pada pembaca, bagaimana dahulu ia tidak suka solawat yang macam-macam, membaca berjanji, minta syafaat kepada Nabi. Paham modernis yang merasuki fikiran, serta kepongahan intelektual yang palsu telah menjauhkan Jalal dari cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Demikian pengakuan penulis dalam pengantar buku ini. Maka lewat buku ini ia ingin menumpahkan kerinduannya pada Rasul kesayangannya yang untuk sementara waktu kurang diindahkan. Secara khusus buku ini mengajak pembaca untuk lebih dekat, mengenal, memahami dan mencintai Rasul manusia pilihan, Nabi Tauladan dan pemberi syafa’at dihari kemudian. Dalam buku ini, penulis mengajak pembaca untuk merenungi kehidupan dengan menyadari hakikat manusia hidup di dunia sebagai hamba Allah.
  5. Didahulukan Akhlak Diatas Fiqh (2002), pada intinya buku ini berisi pesan penulis agar umat Islam tidak terpecah belah oleh karena peradaban fiqh yang diyakini. Karena seperti pada kata pengantar, penulis memaparkan berbagai peristiwa yang kurang harmonis sebagai akibat dari perbedaan fiqh diantara masyarakat Islam. Bahkan karena pemahaman fiqh yang ia yakini banyak masyarakat muslim yang kesulitan menjalankan agamanya. Seperti seorang mahasiswa yang urung mendapat gelar doctor disalah satu unipersita di Jepang oleh karena ia tidak bisa makan masakan orang kafir. Menurut penulis, buku ini kesetian yang berlebihan pada fiqh akan mengukur kesalehan seseorang dengan ukuran sufi. Baik tidaknya seseorang akan dinilai sejauhmana ia menjalankan fiqh yang diyakini. Padahal fiqh sendiri sesungguhnya adalah pemahaman para ulama tentang syari’ah yang kemungkinan kebenarannya juga tidak mutlak. Penulis juga berpendapat, bahwa demi persaudaraan, maka seseorang boleh meninggalkan fiqh yang diyakini. dalam beberapa kasus yang contohkan penulis menyaksikan adanya khilafiyah atau perbedaan antar golongan umat Islam yang kemudian menjadi bibit perpecahan. Buku yang memiliki cirri khas gaya penulisan ini menarik dan mudah dibaca oleh siapa saja dan pada level manapun.
  6. Khutbah Khutbah di Amerika (2002), buku ini merupakan kumpulan khutbah-khutbah Jalaluddin Rakhmat di kampus-kampus Amerika Serikat, naskah-naskah yang semula ditulis dalam bahasa inggris kemudian dikumpulkan dalam buku khusus. Meski demikian, oleh Jalal sebagai pelengkap kemudian di tambahkan beberapa khutbah Idul Fitri, Idul Adha dan Khutbah Nikah yang dilakukan di Indonesia. Hal ini sebagai upaya mengganti atau pelengkap dari teks-teks khotbah di Amerika yang tidak lagi diketahui dimana adanya. Selain itu buku ini menunjukkan kemampuan Jalal dengan pengetahuan di bidang komunikasinya pada masyarakat asli. untuk tidak hanya sekedar diterima saja jalal mampu memberikan tausiah kepada masyarakat kampus di Amerika yang memiliki latar belakang keaneka ragaman. Serta memiliki perbendaan budaya yang jauh antara komunikator atau dai dengan komunikan atau mad’unya.
  7. Meraih Kebahagiaan (2002) buku ini akan menjelaskan kepada pembacanya, bahwa kebahagiaan menurut Jalaluddin Rakhmat adalah pilihan. Buku ini bercerita tentang suasana keluarga besar Jalal, selain itu buku ini menerangi pembacanya dalam menuju kebahagiaan dengan menunjukkan jebakan-jebakan kebahagiaan; sukses, kekayaan, dan kesenangan. Diawali dengan cerita hari ulang tahun kek Jalal, karma saat buku ini ditulis jalal sedang merayakan hari ulang tahunnya. Dihadapan keluarga istri, anak, menantu dan para cucu nya, linangan air mata kebahagiaan Jalal mengalir.

Buku yang kemudian menceritakan bagaimana konsep kebahagiaan menurut jalal serta kebahagiaan dalam pandangan agama Islam serta pandangan agama-agama lain tersebut menarik dibaca oleh karena gaya penulisan yang mudah difahami serta memiliki kandungan materi yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang selalu hidup dalam penderitaan.

Serta masih banyak lagi buku-buku karya Jalaluddin Rakhmat yang tidak bisa penulis cantumkan dalam penguatan penelitian ini oleh karena ketersediaan waktu dan biaya. Selain karya-karya Jalal yang dapat penulis uraikan diatas beberapa karya Jalal yang penulis dapat judulnya antara laian : buku Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Rintihan suci Ahli Bait, Tafsir Suci Surat Al Fatihah, Psikologi Agama, Tafsir bi Al Ma’sur, Zainab al Qubr, dan Mencari Pemikiran Baru Dalam Islam.

Selain itu, buku tentang Jalaluddin Rakhmat yang di tulis oleh Drs Rosidi MA (Dosen Fakultas Dakwah IAIN Raden Intan Lampung) sebagai tindak lanjut dari tesis Dakwah Sufistik Jalaluddin Rakhmat yang ditulis pada Program Pasca Sarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2002.

Selain beberapa buku yang belum didapat oleh penulis, Jalaluddin Rakhmat, juga sering diminta oleh para rekan sasama penulis buku untuk memberikan kata pengantar. Serta beberapa tulisan yang berserak dalam jurnal dan karya-karya lainnya banyak belum terangkum dalam penelitian ini.

0 komentar:

Poskan Komentar